Kamu tahu, mungkin hidup semua orang, termasuk kamu dan
aku, akan lebih mudah jika kita boleh menikah dengan bantal yang menyangga
kepala kita setiap malam, yang mengusir demam, menjauhkan kuntilanak dari
mimpi, mengamini doa-doa, merindukan kita di siang hari, menyimpan aroma sampo
yang kita sukai, menyerap keringat, liur, air mata, tumpahan kopi tanpa
sekalipun protes, dan berbisik ke telinga kita di tiap malam yang murung:
"Berbahagialah. Berbahagialah. Di luar sana. Seseorang mencintaimu,
seseorang tengah mencintaimu.." Tetapi, apakah dunia ini akan membiarkan
kita menikahi sesuatu yang tidak berasal dari kita, meskipun ia mencintai kita
tanpa merasakan duka dan damba? Sepertinya tidak. Semoga hanya
"belum" sehingga kita bisa menunggu datangnya hari itu. Sekarang,
coba bayangkan gunung terdekat dari rumahmu.(Kalau tak ada, kamu boleh
membayangkan Gunung Fuji ataupun Everest.) Coba bayangkan gunung itu pecinta
sedang menunggu orang yang dicintainya. Dan dia menunggu semenjak dia ada di
dunia. Kurasa sebesar itulah bakatku dalam menunggu. Kurasa sebesar itulah aku
ingin bertemu dengan hari itu. Dan berkata kepadanya, "Hanya kamu yang
tahu berapa lama lagi aku harus menunggu.”
No comments:
Post a Comment